13 Orang Tewas dalam Bentrokan di Filipina
27 Mei 2013Sejumlah polisi dari kesatuan elit Special Action Force Filipina sedang menuju sebuah rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin, ketika sejumlah pemberontak yang bersembunyi di semak-semak di pinggir jalan meledakkan bom dan menembaki kendaraan polisi yang lewat. Demikian diutarakan kepala polisi setempat, Rodigro de Gracia.
Serangan mendadak dan tersembunyi itu sudah dikenal selama 44 tahun pemberontakan kelompok Marxis yang berbasis di wilayah pedesaan. Sekitar 120.000 orang diperkirakan tewas dalam konflik ini. Militer Filipina cukup repot dalam upaya menumpas pemberontak komunis dan militan islamis di selatan negeri itu.
Sabtu lalu (25/5) gerilyawan Abu Sayyaf yang berhubungan dengan Al Qaida, membunuh tujuh marinir dalam bentrokan di pulau Jolo dalam operasi militer dengan tujuan membebaskan enam sandera Filipina dan warga asing.
Pemerintah Filipina baru-baru ini menunda pembicaraan perdamaian yang dimediasi Norwegia setelah pemberontak komunis menolak untuk segera melakukan genjatan senjata.
Memenuhi kepentingan AS
Rodrigo de Gracia mengatakan, komando polisi membalas serangan di pinggir jalan dengan tembakan tapi tidak berdaya menghadapi pemberontak yang kemudian kabur setelah mengambil senjata dari korban tewas. Sementara tujuh polisi yang terluka berhasil melarikan diri dengan berjalan kaki,dan kemudian diselamatkan oleh pasukan pemerintah di RS Ballesteros di provinsi Cagayan, sekitar 400 kilometer dari Manila, ibukota Filipina. Setelahnya militer memasang perintang jalan dan mengirim pasukan untuk mengejar penyerang. Demikian disampaikan jurubicara kepolisian Generoso Cerbo di Manila.
Pemberontak dari The New People's Army menuding pemerintah Filipina selalu memenuhi kepentingan Amerika Serikat dan gagal meningkatkan kehidupan golongan miskin. Di tengah-tengah kekalahan dalam pertempuran, pemberontak yang berpaling dan perpecahan internal, jumlah anggota kelompok ini berkurang menjadi sekitar 4.000 pejuang. AS dan Uni Eropa memasukkan kelompok ini ke dalam daftar organisasi teroris.
Juru runding pemerintah Filipina, Alexander Padilla mengatakan pada awal bulan bahwa Joma Sison, pemimpin pemberontak di pengasingan mengusulkan percepatan jalur perundingan dengan menerapkan gencatan senjata dan pembentukan sebuah komisi dengan pemerintahan untuk mendiskusikan reformasi politik dan ekonomi. Namun, Sison kemudian mundur dari gagasannya itu dan menuding pemerintah sebagai penyebab kemacetan proses perdamaian.
Dalam pertempuran hari Sabtu di selatan Filipina, tujuh gerilyawan lain juga tewas terbunuh. Enam anggota marinir dan sekitar 10 pria bersenjata cedera, ujar Kolonel Jose Cenabre.
Pasukan pemerintah yang didukung helikopter tempur dikerahkan untuk memburu militan yang melarikan diri. Mereka diperkirakan dipimpin oleh Jul-Aswan Sawadjaan, seorang komandan Abu Sayyaf yang dituduh menculik seorang wartawan Yordania dan dua pengamat burung Eropa yang masih berada dalam penyaderaan kelompok militan itu.
CSF/RN (APE/AFPE/dpa)